Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 3, Menggunakan IP Cam Publik

Bagaimana kalau mau belajar pemasangan shinobi namun tidak memiliki IP Cam? ada caranya kah?

Ada. Pasti Ada

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan IP Cam publik yang berada di beberapa wilayah/negara. Daftarnya bisa didapat di http://www.insecam.org/. Tidak semua bisa digunakan, namun tentu saja ada yang bisa. Saya sendiri menemukan satu yang sukses digunakan. Tahapannya kurang lebih seperti ini:

  1. Cari salah satu kamera. Saya menemukan yang berada di Jepang. http://www.insecam.org/en/view/534370/.
  2. Ambil IP Addressnya, investigasi url-urlnya dengan iSpy agar bisa mendapat informasi lebih detil.
  3. Jika tanpa nomor 2, juga bisa, kebetulan kameranya support ONVIF, tinggal masukin alamat IP dan atur-atur dan coba-coba sampai pas
  4. Khusus ini, saya menemukan bahwa konfigurasi yang pas itu MJPEG.
IP Cam Publik
IP Cam Publik

Selamat mencoba dan latihan untuk kamera yang lain. Banyak spot-spot bagus juga lho.

 

PS: CCTV Xiaomi Yi Max 02 1080p Outdoor Smart IP Cam ini ndak support ONVIF gak bisa diakses via rtsp jadinya.

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 2, Pemasangan Shinobi

Konoha

Pemasangan Shinobi cukup mudah sekali, cukup menjalankan sebaris perintah dari root:

bash <(curl -s https://gitlab.com/Shinobi-Systems/Shinobi-Installer/raw/master/shinobi-install.sh)

Selanjutnya tinggal mengikuti langkah-langkah yang ada di layar. Saya memilih mengambil dari branch development agar mendapatkan fitur-fitur terbaru sekaligus testing. Dokumentasi pemasangan secara lengkap bisa dibaca di sini.

Berikut hal-hal utama yang perlu dilakukan setelah pemasangan:

Continue reading “Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 2, Pemasangan Shinobi”

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 1, IP Cam

Oprekan kali ini bermula dari lokasi proyek rumah yang kemalingan. Saat awal bangun, kemalingan genset, berikutnya beberapa minggu lalu, para tukang kemalingan handphone.

Saya memiliki cctv yang ada di rumah, subsidi dari Pak Bos yang memiliki perusahaan penjualan cctv. Yang sudah dipakai, sangat mudah dioperasikan. Just work. Namun kali ini sejak pandemi, saya kepikir untuk memanage cctv tersebut dengan linux, entah raspi atau pakai komputer-komputer spek rendah.

Sebelumnya, saya sama sekali tidak mengerti teknologi cctv beserta perabotannya. Namun sejak ngoprek ini, pengetahuan jadi bertambah. Awalnya hanya tau/nemu Shinobi Video saja, setelah itu bingung, harus bagaimana? cara koneksinya ke cctv bagaimana?

Dinamakan IP Cam, tentunya memiliki IP, umumnya, dari pabrikan diatur menjadi dhcp client. Sehingga dapat IP otomatis dari router/server dhcp. Saya dipinjami IP Cam oleh Pak Iwan Tahari. Dalam kardusnya tidak ada informasi apapun (buku manual juga tidak ada). Merek/Pabrikan pembuatnya juga tidak tahu. Jadi dengan coba-coba colokin aja ke router/modem yang ada di rumah, lalu diintip dapat IP berapa, nah itu dia tinggal dipanggil IPnya di peramban.

Continue reading “Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 1, IP Cam”

Pasang ulang Weibu F3C – Endless Mini PC (unreleased)

Weibu F3C | Endless Computer

Saya mendapatkan komputer ini dari Baris, CEO Endless Solutions jaman saya masih jadi ambassador pada 2017. Sudah terpasang Endless OS dan berfungsi dengan baik. Beberapa hari ini saya memutuskan untuk mengganti OSnya dengan OS apapun yang memungkinkan.

Pengujian pertama dengan openSUSE Tumbleweed, pemasangan berjalan mulus, masuk desktop agak kacau dikarenakan layar HDMI dianggap sebagai layar extended. Jadi harus mengarahkan kursor yang tepat dan mengatur ulang layar beserta resolusinya. Setelah masuk desktop, wireless tidak bisa digunakan. ini sudah sesuai prediksi. Pasang firmware non-free juga tidak membuahkan hasil.

Pengujian berikutnya dengan Ubuntu 20.04 yang masih Beta. Hampir sama, perbedaannya hanya si Ubuntu sedikit lebih pintar mengenali layar dari pada openSUSE. Namun tetap perlu mengatur resolusi layarnya. Wireless juga sama-sama tidak bisa digunakan walaupun sudah memasang firmware non-free.

Continue reading “Pasang ulang Weibu F3C – Endless Mini PC (unreleased)”

Macbook Jadul dengan openSUSE Tumbleweed

Jadi kapan hari menjenguk duo R, dan keinget kalau ada “harta” lama yang gak dipakai. Jadinya saya minta dan dicoba dihidupkan. Macbook2,1. Laptop jaman Pak Beye kata teman saya.

Macbook2,1
Macbook2,1

Ini komputer cukup nyusahin. Kalau pakai MacOS X mentok di Lion. Walhasil gak bisa ngapa-ngapain, wong banyak aplikasi ndak support. Boot usb linux juga ndak mau, gak kayak Macbook keluaran baru yang mau boot linux. Dulu masang ubuntu lewat media CD. Berhubung sudah gak punya CD, alhasil menggunakan segala cara agar bisa boot. Cara termudah adalah memasang ubuntu dari komputer lain, lalu pindah disknya ke macbook jadul tersebut.

Bagaimana dengan OS Linux lainnya? susah … gak bisa kepasang. Kesimpulan akhir, karena grub yang terpasang di ubuntu itu grub-pc i386 (walaupun pakai arch 64 bit). Jadi yang mulus terpasang pertama kali adalah ubuntu.

Selanjutnya usaha agar memasang openSUSE Tumbleweed. Berbagai cara sudah digunakan, ketemu kesimpulan cara yang mujarab sebagai berikut:

  1. Pasang opensuse (boot legacy, jangan uefi) pada disk (usb flashdisk) lain dengan komputer lain.
  2. Sediakan partisi kosong ext4 di macbook jadul tersebut.
  3. Salin isi usb flashdisk pada nomor 1 ke dalam partisi ext4 tadi. Salin dengan opsi -rapv biar kebawa semua atribut dan permission berkasnya.
  4. Uji dengan chroot, kalau mulus berarti sudah benar.
  5. Ubah fstab, sesuaikan dengan uuid yang baru, pindah motherboard/komputer akan membuat beda uuid.
  6. Edit grub di ubuntu, sesuaikan.

Ribet kan? tapi seru, buat nambah kesibukan selama masa diam di rumah.

Pergi ke FOSDEM 2020

Biar kayak orang-orang

Ini nulisnya telat banget, juga males nulis banyak karena udah telat. Intinya sih pingin pamer kalau berhasil pergi ke FOSDEM 2020 di Belgia. Dan seru-seruan bersama teman-teman TDF/LibreOffice.

TDF Board & MC
TDF Board & MC

 

Biar kayak orang-orang
Biar kayak orang-orang

 

Konser Brexit
Konser Brexit

 

Bawaan balik ke kampung
Bawaan balik ke kampung

Foto lainnya masih banyak sih, tapi ndak minat ditaruh di sini. 🙂
Perjalanan ini ditanggung sepenuhnya oleh The Document Foundation (kecuali pembelian oleh-oleh).

Notes from GNOME Asia Summit 2019

It’s been my sixth GNOME Asia Summit that I attend. My first time was in Beijing, at Beihang University. Then every year I help to organize and collaborate with local organizer. I only skipped not attending when it was in Chongqing.

After last year, me and Sammy Fung become Leader/Co-Leader of Asia Committee. Asia Committee is not formal department or suborganization in GNOME Foundation. It contained few people who active at promoting GNOME in Asia. Mostly from people who become local organizer and people who always attend in several years. And personally I knew and meet them in few conference. Probably I will ask board to make this Asia Committee to become formal one.

This conference held in Gresik City, East Java. This city is supporting city for Surabaya (capital of East Java province). It’s small city with growing community right now. One of community is Gresik Dev who become local organizer. FOSS generaly and GNOME in specialy is not recognized by common people. This point of view that lead me to ask Gresik Dev to promoting FOSS and GNOME. Local organizer contain Gresik Dev Community and student from UISI and UMG (both of them the most popural university in Gresik).

This conference, I helping local organizer as steering committee (consultant). One of my reason to proactive in this event is I was born in this city near four decades ago. Probably they see me as dictator because I wanna make this conference as good as possible with limited resource.

I’m driving my car to go to Gresik City. It’s near 800 km from Bogor (city which I live). I arrived on Wednesday afternoon. In Thursday I helping to pickup few speaker from airport. One of my duty is to manage transportation for foreigner from airport to hotel, hotel to venue, vice versa. Since also me that know most of foreigner speaker. So on Friday my duty is become driver and introduce several speaker to each other.

Friday is workshop day, mostly I spent my time to chit chat with all speaker that already arrive and introduce to each other, also make sure tomorrow everything is going well. In this day, I know theres few newcomers that also become speaker. Mostly they got nervous because first time experience. So little bit lack on preparing and predicting the audience. At night we have welcome party and I have long talk with Gaurav and Andre Klapper.

Saturday is first day of conference. I see many participant that not familiar with GNOME but they willing to join this conference. Also I realized that long time bonded friends who often going to GNOME Asia Summit is me, Bin Li and Andre Klapper. English is become little bit problem because this not native language. But the master of ceremony is doing their job amazingly. The person who in charge of slide and projector need to use GNOME and Linux more often. 🙂

Goodiebag and it’s content. Photos taken by Neil

This first day, me and several friends who able to understand Pegon (https://en.wikipedia.org/wiki/Pegon_script) planning to have BoF to make this characters working in GNOME/Linux. You can join at https://gitlab.com/aksaranusantara.

Sunday, I meet best friends from Tatalogam Company who become one of sponsor, also they have keynote. I also have keynote at the end of event. Also we have nice dramatic and funny closing. Many doorprize given to participant. I see many participant enjoy the conference and have selfie/wefie at photo’s booth for uploading to their instagram. It’s also good for marketing.

Anyway, big applause  to desaign team who manage everything that need design/art. And good job for local organizer. Thank you to all speaker that spent time joining this conference and share your knowledge. Thank you to all participant for attending and help promoting GNOME. Big thanks to GNOME Foundation who sponsored my travel!

From closing this conference, it’s meaning I’m become Leader of Asia Committee because Sammy Fung stepdown for personal matters. Any one willing to help me?

See you at Next GNOME Asia Summit 2020!

GNOME Friends