Journey to The Land of The Rising Sun

Shibuya Crossing

Japan is one of few countries that I want to visit before end of the world. I have a chance to visit Japan many times but canceled it because of several reason. This time, I have chance to visit Japan because LibreOffice Asia Conference. It’s first time Asia conference and also my first time in Japan.

Flight and Arrived

My flight to Japan was at May 23, 2019. At that time, it’s still in Ramadan (https://en.wikipedia.org/wiki/Ramadan). It’s my first time to visiting another country during Ramadan. Fasting along the flight gave me more experience. You can imagine when flight crew spread the meals to all passengers and they open the meals, the smell can blow up your mind. Probably that’s part of feeling of poor people that difficult to have food got smell from our food.

I’m lucky that Singapore Airlines crew treat me well when time to Iftar (https://en.wikipedia.org/wiki/Iftar). Arrived at Hostel near Kamata Station about 23.00, I feel the weather of Japan is good enough for me. I was amazed by several thing at the first day.

Day -1 of Conference

One of my reason going to Japan except for the conference, to buy Japanese guitar. Many stories about how good quality of Japanese guitar spread among musician. First trip starting go to Shibuya, found famous Hachiko statue and Shibuya crossing, then straight go to Ishibashi Music Store to sight seeing lot of guitars there. But can’t find which on is suitable for me, according to style, model and price.

Ishibashi Music Store
Ishibashi Music Store

Continue reading “Journey to The Land of The Rising Sun”

Advertisements

Bekerja dan Berusaha

Pagi ini, di Kota Kediri, saya menemukan pencucian motor yang baru buka, yang kemarin-kemarin saat pakai NMAX ndak pernah kelihatan beroperasi.

Saya menjadi pelanggan kedua, sebelumnya sudah motor lain, BYSON. Saya sempat kaget saat melihat tarifnya Rp 8000 untuk segala jenis motor. Kalau di Republik Bojong, tarifnya bakal berbeda.

Di waktu yang bersamaan, saya membaca sebuah lowongan pekerjaan, masih butuh dua orang lagi.

Selang beberapa menit, dua orang karyawan datang membawa sepeda jengki (sepeda kumbang), menaruh sepedanya dan langsung bekerja membersihkan sepeda motor saya.

Saya jadi tertegun dengan semangat bekerja mereka, mau bekerja apa saja, yang penting halal, biarpun menurut bayangan kita, gajinya tidak seberapa. Yang penting prosesnya. Mereka masih muda, tebakan saya usia di bawah 25, walau kalau foto sama saya, seolah seumuran.

Saya jadi melamun, teringat dua dasawarsa yang telah lalu, saya sempat jadi kurir tagihan telepon, yang harus jalan kaki karena tidak punya kendaraan, yang harus diantarkan dari pintu ke pintu serta upahnya 150 rupiah tiap tagihan.

Ibu saya selalu sedih dengan keadaan saya yang begitu, sehingga beliau tidak pernah berhenti berdoa agar saya diberi pekerjaan yang tidak membebani otot tubuh saya.

Konferensi LibreOffice Asia yang Pertama Kali

Merujuk pada pemberitaan di https://blog.documentfoundation.org/blog/2019/02/19/first-libreoffice-asia-conference/ tentang acara Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali, berikut terjemahan dari media rilis tersebut:

 

Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali akan diadakan pada 25-26 Mei 2019 di Nihonbashi, Tokyo, Jepang

Ini adalah konferensi LibreOffice yang pertama menjangkau Asia, area yang memiliki pertumbuhan perangkat lunak berbasis FOSS yang sangat pesat.

Berlin, 18 Februari 2019 – Setelah kesuksesan besar Konferensi LibreOffice Indonesia pada tahun 2018, para anggota dari komunitas Asia memutuskan untuk mengangkat isu ini di 2019 dengan Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali di Nihonbashi – pusat kota Tokyo, Jepang – pada 25-26 Mei 2019.

Sebagai salah satu penyelenggara, Naruhiko Ogasawara, anggota dari komunitas LibreOffice Jepang dan The Document Foundation, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Saat kami mengadakan LibreOffice Mini Conference Japan 2013 sebagai acara lokal, kami hanya sedikit mengetahui tentang komunitas-komunitas di belahan lain Asia,” ucap Naruhiko. “Kemudian tahun ini kami menghadiri LibreOffice Conference dan acara di Asia lainnya seperti openSUSE Asia, COSUP, dan lain sebagainya. Kami menyadari bahwa banyak rekan-rekan kami yang aktif dan bahwa komunitas kami harus belajar banyak dari mereka. Kami bangga dapat mengadakan Konferensi Asia yang pertama dengan rekan-rekan kami untuk lebih memperkuat kemitraan tersebut.

“Ini lompatan takdir yang nyata,” ucap Franklin Weng, salah seorang anggota dari Asia di Dewan Direksi The Document Foundation. “Asia adalah daerah yang perkembangannya sangat pesat dalam mengadopsi ODF dan LibreOffice, tetapi ekosistem kami untuk LibreOffice dan FOSS belum cukup baik. Dalam konferensi ini kami tidak hanya mencoba membuat ekosistem FOSS di Asia lebih baik, tetapi juga untuk mendorong anggota komunitas Asia menunjukkan potensi mereka.”

Beberapa anggota inti dari The Document Foundation akan menghadiri konferensi ini, termasuk Italo Vignoli, pimpinan tim pemasaran dan hubungan masyarakat dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice, dan Lothar Becker, juga wakil ketua Komite Sertifikasi. Selain itu, akan ada anggota komunitas dari Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dan mungkin China yang hadir.

Poin dari konferensi ini meliputi:

  • Workshop bisnis – yang akan dipandu oleh Lothar Becker dan Italo Vignoli, ketua dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice dari The Document Foundation. Lothar dan Italo akan membahas tentang layanan bisnis – apa yang mendasar dari layanan bisnis LibreOffice, status bisnis LibreOffice saat ini di Eropa, Asia dan wilayah geografis lainnya, dan bagaimana kita dapat saling mendukung, dan lain sebagainya.

  • CJK Hackfest – yang akan dipimpin oleh Mark Hung, seorang Pengembang LibreOffice Tersertifikasi di Taiwan, untuk membahas dan meretas masalah CJK di LibreOffice.

  • Wawancara Sertifikasi – Wawancara Sertifikasi LibreOffice kedua di Asia akan diadakan selama LibreOffice Asia Conference, yang dipandu oleh Italo Vignoli dan Lothar Becker, ketua dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice saat ini. Sejauh ini total 4 atau 5 kandidat akan diwawancarai untuk Profesional Migrasi Bersertifikat LibreOffice dan Pelatih Bersertifikat LibreOffice.

  • Sertifikasi Lokal Asia untuk LibreOffice – yang akan dipandu oleh Franklin Weng dan Eric Sun, dua anggota TDF dari Taiwan, yang akan memperkenalkan ide-ide agar memiliki keterampilan LibreOffice dan sertifikasi pelatih di Asia.

Call for proposal akan segera diluncurkan pada bulan Februari. Selain topik di atas, topik terkait LibreOffice dan ODF lainnya juga diterima.

Catatan Menjadi Juri di Kompetisi Mahasiswa

Tanggal 8 sampai dengan 10 November 2018 saya diminta untuk menjadi juri pada Kompetisi Mahasiswa bidang Informatika Politeknik Nasional 2018 yang diadakan di PENS, Surabaya, Jawa Timur. Ada beberapa kategori dalam kopetisi ini: IoT, Bisnis TIK, Hackathon, Design Animasi, Game Dev, E-Gov, Keamanan Jaringan, dan Cipta Inovasi.

Saya baru pertama kali menjadi juri pada kompetisi semacam ini. Dan acara ini juga baru pertama kali diadakan serta akan bersifat tahunan. Saya ditunjuk untuk menjadi juri kategori IoT. Kategori yang saya tidak tertarik untuk menjadi pelaku, namun sangat tertarik untuk mengamati dan mempelajari. Menjadi juri di kategori ini memaksa saya untuk belajar lagi prinsip-prinsip dasar IoT dan Industri 4.0.

Peserta kompetisi ini dari banyak Poltek yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam kategori yang saya tangani, para mahasiswa saya nilai cukup kreatif dan pintar. Saya salut ke mereka dengan usia semuda itu tapi bisa melakukannya. Bermacam-macam yang telah dibuat oleh para peserta, ada sensor kesehatan sapi, pengatur irigasi, pemberi makan ternak otomatis, pemasak nasi otomatis, pengelola kamar kos, pengelola antrean, dsb.

Untuk IoT terdiri dari 3 juri. satu juri dari industri, satu juri dari akademisi dan satunya lagi juri umum (kali ini saya dalam posisi ini). Sebelum memulai penjurian, saya menanyakan ke juri akademisi terkait komponen kesiapan produk. Apakah yang dipresentasikan cukup berupa purwarupa atau sudah siap produksi. Pak Udin yang jadi dosen Poltek (akademisi) menjawab pasti “Siap produksi, karena keseharian di Poltek itu sudah prototype/purwarupa”.

Nah di sini saya akan sedikit memberikan beberapa catatan:

  1. Mayoritas produk yang dipresentasikan masih sebatas purwarupa. Ada beberapa yang sudah siap produksi, namun terkendala tidak sanggup menghitung atau memperkirakan harga jualnya. Banyak diantaranya tidak memiliki antar muka yang baik.
  2. Beberapa tidak berfikir untuk menjual produknya karena mengharapkan dana bantuan/hibah/funding. Ini baik jika implementasinya untuk kelembagaan seperti yayasan. Namun perhitungan nilai produk harus tetap ada.
  3. Banyak yang rumit sehingga tidak praktis. Ini mungkin dikarenakan kepintaran peserta. Saya yakin mereka pintar-pintar sehingga sanggup membuat produk yang kompleks sehingga melupakan asas praktisnya.
  4. Masih berkutat di menampilkan data di dashboard. Jika cuma menggunakan IoT untuk menampilkan data di dashboard, ini masih Industri 3.0, di 4.0 harusnya rawdata diolah/dianalisa dan dikembalikan ke peralatan IoT untuk melakukan aksi-aksi selanjutnya.
  5. IoT itu membutuhkan koneksi internet. Ada beberapa peserta yang dalam realitanya akan sangat kesulitan menerapkan produknya dikarenakan faktor akses internet, bahkan listrik. Dalam pengujian produknya mungkin sarana internet sudah mendukung. Sehingga dalam produknya harus dibatasi atau diberikan prasyarat dalam implementasi nyata.
  6. Presentasi banyak membahas seputar teknis, bukan produk itu sendiri. Ini terkesan peserta kurang bisa menjelaskan produknya, mereka terlalu fokus pada hal-hal teknis dan teknologi. Bukan pada penerapan produk dan fitur-fiturnya. Terkait teknis, juri pasti akan menanyakan ke mereka.
  7. Kurang uji produk. Beberapa peserta dalam presentasi produknya tidak berjalan mulus. Saya menduga ini kurang diuji dikarenakan waktu mereka terbatas.
  8. Dalam kacamata saya, jika ada salah satu peserta yang sudah MoU dengan industri/bisnis terkait produknya, mungkin bisa jadi pemenang. Banyak jalan untuk ke sini.

Di luar catatan di atas, saya banyak bertemu dengan para akademisi. Orangnya pinter-pinter dan baik. Walau saya yakin seyakin-yakinnya, kalau mereka ngajar pasti galak dan bawel.

Bersama para dosen Poltek

Bertemu orang pinter dan baik itu bisa menjadi obat hati.

 

Kembali Mengunjungi Kediri

Saya berkunjung ke Kediri pertama kali sekitar 2002. Setelah itu beberapa kali ke sana karena pada tahun 2005 saya menikah dengan orang Kediri. Sekitaran 2005 sampai 2007 akhir, beberapa kali ke sana, dengan roda dua berjenis Vega R. Saya kurang mengenal kota ini, kurang keliling karena di era itu memang tidak mampu keliling dan piknik-piknik. Sekarang sudah mampu, tapi sendiri, atau paling banter cuman sama Runa Rana, mamanya gak mau ikut karena sudah pisah. Ada rasa penyesalan dalam hati.

Pagi ini saya menyusuri daerah pinggiran Kabupaten Kediri dan Kota Kediri. Ya, Kediri dibagi dua, Kota madya dan Kabupaten, mirip dengan Bekasi.  Dengan motor yang dikenal oleh netizen sebagai motor sok gede, NMAX, saya melewati “Arc De Triomphe” di Simpang Lima, sampai ke tengah kota, tempat saya menginap di sebuah hotel kecil. Dulu saya memang menganggap Kediri itu lebih ndeso dari Gresik, namun sekarang Gresik lah yang jauh lebih ndeso. Dari segi penataan kotanya serta pertumbuhannya. Tentunya Kediri memang lebih luas dari pada Gresik.

Dulu saya cukup kagok untuk menghafal daerah/jalan di tengah kota. Namun dengan google maps, membaca sebentar, langsung paham. Terakhir ke kota ini barangkali 2013, saat ayah mertua meninggal. Kedepannya saya bakalan sering mondar mandir ke kota ini. Semoga nanti bisa ketemu komunitas FOSS atau Kamen Rider Club.

GNOME Asia Summit 2018 – Taipei, Taiwan

GNOME Asia Summit 2018 this time happen in Taipei – Taiwan, at National Taiwan University of Science and Technology, August 11 – 12, 2018. This summit is co-host between openSUSE Asia Summit and COSCUP, so the summit title is COSCUP 2018 x openSUSE Asia Summit 2018 x GNOME Asia Summit 2018.

I arrived at Taipei at Thursday – August 9. Franklin Weng from LibreOffice Taiwan pickup me at airport and go stright to A+A Workshop. A+A Workshop was place that FOSS Community from Taiwan used for meetup every Thursday. Franklin introduce me to others. Then go to First Hostel to meet other friends from Indonesia who also attend this conference. Most of them from openSUSE Indonesia.

#0 day

On Friday, me and others have free time. We go to Taipei Grand Mosque to Jum’ah (Friday) Praying, then I meet my High School Friends who live in Taipei. Then I go to Microfocus office to meet other Indonesian and openSUSE Community. At night, have dinner with LibreOffice Community around Asia, LibreOffice Taiwan (Franklin Weng) paid for our food.

Then we go to welcome party for speaker and staff. My role for this event was part of international staff, so I have invitation for this with others. It’s good time to see each others and good night few. Few openSUSE and SUSE member discuss with me about potential held openSUSE Asia Summit and GNOME Asia Summit together next year.

Taipei 101 from roof top

#1 day

This summit was very crowd comparing to COSCUP 2016 (I became speaker at that time). On first day attended by 1364 participant and on second day attended by 784 participant. It has 15 parallel classes. Few of them are in English, especially from openSUSE and GNOME.

In this summit, I help to manage coordinating for web content, design, and also material design such as logo. Many friends from Taiwan and Indonesia contribute in this. I’m not become speaker this time, but I bring few students and they become speaker.

Empty Class

On first day, I’m joining Benjamin Berg class, he’s talking about “Supporting Miracast on the GNOME Desktop” which is very interesting for me comparing to others. Then “Desktop applications: life inside a sandbox” by David King then The Year of the GNOME by Nuritzi Sanchez. I spent few hours for discussion with other participant. Sharing mine and their activity about contributing to FOSS. And also I try to find praying room, and found it next conference building. So comfortable. The organizer also give me food that compatible with Halal Food, and I see Sobha and her student got vegetarian food. It’s prepared well.

At evening, we have official two official BoF (openSUSE and GNOME) and one unofficial BoF (LibreOffice). I was realy confuse which one that I must join. But I made decission, because I bring 3 students that contribute in LibreOffice this year, so I will help them to join LibreOffice BoF. Before we go, I told Kukuh to join openSUSE BoF (because he’s President of openSUSE Indonesia Community, but also GNOME Foundation Member), Estu and Siska join GNOME BoF (both of them also GNOME Foundation Member). But suddenly, Siska joining LibreOffice BoF.

In this BoF, we share experience between each person about contributing LibreOffice with different ways each of us. And also we have food here. This is my first time eat Sushi. 😀

Delicious or not?

#2 day

I was late going to venue, I’m not joining for keynote speaker session and directly going to class at break time. Starting my day with Bin Li’s class talking about Flatpak vs Snap. The class in Chinese but slide in English, still understanable for me. Then go to Iwan’s class which talking about Using Inkscape do Design Shoes.

After lunch I joining two Kukuh’s class, first about GNOME Recipes & Local Wisdom then openSUSE Leap & Flatpak.

Dinner at #2 day

In evening I invited by COSCUP to join dinner together other Indonesian going to Ximending to buy some souvenir. I was the same table with Max Huang, Ines, Sunny, Edwin Zakaria, Kukuh, Estu, Fuminobu Takeyama, Naruhiko Ogasawara, and Syuta Hashimoto. The food is good and many COSCUP staff here so we have lot of chat each others. They also prepare Muslim compatible food and also vegetarian food. Sunny help us to tell wich one that contain pork.

Sushi, Again!

#3 Day

This is last day of the event, I joining one day tour for speaker. Going to National Palace Meuseum and Taipei 101. I’m not excited because I’ve been here. NPM for second time and Taipei 101 for third time. But having together with other are good for me.

At Evening, Franklin and Eric invite all Indonesian to have dinner (again). IMHO, this is the best food that I have when visiting Taiwan this time.

Everybody Looks Tired

Notes

  1. I’m GNOME Foundation Member and The Document Foundation Member, also from openSUSE Indonesia Community. Because of this, I have many chance to have chat with others.
  2. There’s no GNOME Exhibition Booth this time
  3. I help 3 students going to this conference, they never going abroad. I hope after this they can share their experience to others to increase contributor in Indonesia
  4. I have meeting on second day with Max, Emily, Sammy and Haggen. Max stepdown from GNOME Asia Committee. Both Max and Emily handle lead GNOME Asia for decade. Now it’s me and Sammy.

Thanks to Max Huang and COSCUP Teams, also thanks to Franklin Weng and Eric Sun!

 

Kehidupan dan Cobaan/Ujian

Mudik kali ini terasa berbeda, saya bisa melihat sudut pandang lain. Saya menyempatkan bertemu dengan beberapa keluarga utama dari ayah dan ibu. Menyempatkan menemui keluarga adik saya. Kurang satu, tidak ketemu adik kecil saya yang memang sepertinya tidak berminat untuk ketemu saya.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, biasanya saya hampir tidak mendapatkan hikmah yang banyak selain dari cerita-cerita mereka. Namun kali ini berbeda. Saya mengingat ujian/cobaan masing-masing terhadap kehidupan mereka.

Ada yang diuji dengan bayang-bayang kesalahan masa lalunya, jauh dari anaknya, dikucilkan saudaranya; ada yang dicoba dengan kemampuan dan kelebihannya, sehingga apapun yang diingikan selalu terpenuhi; ada yang diuji dengan ketidak mampuan ekonomi; ada yang diuji dengan kondisi kesehatannya. Ada yang diuji dengan harus merawat orang tuanya yang sudah tua renta. Ada juga yang harus terus bekerja keras agar anak-anaknya bisa sekolah sampai jenjang yang tinggi. Ada juga yang diuji harus tetap berbakti kepada kedua orang tuanya, sehingga dia tidak bisa bekerja di luar kota.

Ada juga para orang tua-orang tua yang diuji dengan perilaku buruk anak-anaknya; ada yang anaknya bercerai; ada yang diusia tua masih harus membantu anak-anaknya untuk merawat cucu-cucunya; ada yang tidak memiliki anak dan hidup sendiri; ada yang memiliki anak yang sudah berkeluarga namun masih menggantungkan hidup ke orang tuanya dan beraneka ragam lainnya.

Saya mudik memang sengaja “terlambat”, hampir dua minggu setelah lebaran, hampir bertepatan dengan Haul Sunan Prapen. Saya sengaja melakukannya biar orang tua saya tidak kebingungan karena saya membawa istri (baru) setelah pernikahan sebelumnya kandas dikarenakan keegoisan saya.

Mudik sendiri bagi saya tidak berlaku, karena saya sering kali mengunjungi orang tua di beberapa tahun terakhir. Paling lambat dua bulan sekali. Namun mudik kali ini berkesan bagi istri yang orang Jakarta asli. Orang jakarta asli tidak memiliki kampung. 🙂

Istri juga jadi mengetahui sejauh mana tingkat kemiskinan bapak ibu saya. “Tidak terbayangkan sejauh itu”, katanya. Ya begitulah, tapi alhamdulillah anak-anak mereka sudah bisa mandiri semua, sehingga tinggal anak-anaknya membalas budi orang tua walau tidak akan pernah mencukupi.

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا