Bekerja dan Berusaha

Pagi ini, di Kota Kediri, saya menemukan pencucian motor yang baru buka, yang kemarin-kemarin saat pakai NMAX ndak pernah kelihatan beroperasi.

Saya menjadi pelanggan kedua, sebelumnya sudah motor lain, BYSON. Saya sempat kaget saat melihat tarifnya Rp 8000 untuk segala jenis motor. Kalau di Republik Bojong, tarifnya bakal berbeda.

Di waktu yang bersamaan, saya membaca sebuah lowongan pekerjaan, masih butuh dua orang lagi.

Selang beberapa menit, dua orang karyawan datang membawa sepeda jengki (sepeda kumbang), menaruh sepedanya dan langsung bekerja membersihkan sepeda motor saya.

Saya jadi tertegun dengan semangat bekerja mereka, mau bekerja apa saja, yang penting halal, biarpun menurut bayangan kita, gajinya tidak seberapa. Yang penting prosesnya. Mereka masih muda, tebakan saya usia di bawah 25, walau kalau foto sama saya, seolah seumuran.

Saya jadi melamun, teringat dua dasawarsa yang telah lalu, saya sempat jadi kurir tagihan telepon, yang harus jalan kaki karena tidak punya kendaraan, yang harus diantarkan dari pintu ke pintu serta upahnya 150 rupiah tiap tagihan.

Ibu saya selalu sedih dengan keadaan saya yang begitu, sehingga beliau tidak pernah berhenti berdoa agar saya diberi pekerjaan yang tidak membebani otot tubuh saya.

Konferensi LibreOffice Asia yang Pertama Kali

Merujuk pada pemberitaan di https://blog.documentfoundation.org/blog/2019/02/19/first-libreoffice-asia-conference/ tentang acara Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali, berikut terjemahan dari media rilis tersebut:

 

Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali akan diadakan pada 25-26 Mei 2019 di Nihonbashi, Tokyo, Jepang

Ini adalah konferensi LibreOffice yang pertama menjangkau Asia, area yang memiliki pertumbuhan perangkat lunak berbasis FOSS yang sangat pesat.

Berlin, 18 Februari 2019 – Setelah kesuksesan besar Konferensi LibreOffice Indonesia pada tahun 2018, para anggota dari komunitas Asia memutuskan untuk mengangkat isu ini di 2019 dengan Konferensi LibreOffice Asia yang pertama kali di Nihonbashi – pusat kota Tokyo, Jepang – pada 25-26 Mei 2019.

Sebagai salah satu penyelenggara, Naruhiko Ogasawara, anggota dari komunitas LibreOffice Jepang dan The Document Foundation, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Saat kami mengadakan LibreOffice Mini Conference Japan 2013 sebagai acara lokal, kami hanya sedikit mengetahui tentang komunitas-komunitas di belahan lain Asia,” ucap Naruhiko. “Kemudian tahun ini kami menghadiri LibreOffice Conference dan acara di Asia lainnya seperti openSUSE Asia, COSUP, dan lain sebagainya. Kami menyadari bahwa banyak rekan-rekan kami yang aktif dan bahwa komunitas kami harus belajar banyak dari mereka. Kami bangga dapat mengadakan Konferensi Asia yang pertama dengan rekan-rekan kami untuk lebih memperkuat kemitraan tersebut.

“Ini lompatan takdir yang nyata,” ucap Franklin Weng, salah seorang anggota dari Asia di Dewan Direksi The Document Foundation. “Asia adalah daerah yang perkembangannya sangat pesat dalam mengadopsi ODF dan LibreOffice, tetapi ekosistem kami untuk LibreOffice dan FOSS belum cukup baik. Dalam konferensi ini kami tidak hanya mencoba membuat ekosistem FOSS di Asia lebih baik, tetapi juga untuk mendorong anggota komunitas Asia menunjukkan potensi mereka.”

Beberapa anggota inti dari The Document Foundation akan menghadiri konferensi ini, termasuk Italo Vignoli, pimpinan tim pemasaran dan hubungan masyarakat dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice, dan Lothar Becker, juga wakil ketua Komite Sertifikasi. Selain itu, akan ada anggota komunitas dari Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dan mungkin China yang hadir.

Poin dari konferensi ini meliputi:

  • Workshop bisnis – yang akan dipandu oleh Lothar Becker dan Italo Vignoli, ketua dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice dari The Document Foundation. Lothar dan Italo akan membahas tentang layanan bisnis – apa yang mendasar dari layanan bisnis LibreOffice, status bisnis LibreOffice saat ini di Eropa, Asia dan wilayah geografis lainnya, dan bagaimana kita dapat saling mendukung, dan lain sebagainya.

  • CJK Hackfest – yang akan dipimpin oleh Mark Hung, seorang Pengembang LibreOffice Tersertifikasi di Taiwan, untuk membahas dan meretas masalah CJK di LibreOffice.

  • Wawancara Sertifikasi – Wawancara Sertifikasi LibreOffice kedua di Asia akan diadakan selama LibreOffice Asia Conference, yang dipandu oleh Italo Vignoli dan Lothar Becker, ketua dan wakil ketua Komite Sertifikasi LibreOffice saat ini. Sejauh ini total 4 atau 5 kandidat akan diwawancarai untuk Profesional Migrasi Bersertifikat LibreOffice dan Pelatih Bersertifikat LibreOffice.

  • Sertifikasi Lokal Asia untuk LibreOffice – yang akan dipandu oleh Franklin Weng dan Eric Sun, dua anggota TDF dari Taiwan, yang akan memperkenalkan ide-ide agar memiliki keterampilan LibreOffice dan sertifikasi pelatih di Asia.

Call for proposal akan segera diluncurkan pada bulan Februari. Selain topik di atas, topik terkait LibreOffice dan ODF lainnya juga diterima.

Kembali Mengunjungi Kediri

Saya berkunjung ke Kediri pertama kali sekitar 2002. Setelah itu beberapa kali ke sana karena pada tahun 2005 saya menikah dengan orang Kediri. Sekitaran 2005 sampai 2007 akhir, beberapa kali ke sana, dengan roda dua berjenis Vega R. Saya kurang mengenal kota ini, kurang keliling karena di era itu memang tidak mampu keliling dan piknik-piknik. Sekarang sudah mampu, tapi sendiri, atau paling banter cuman sama Runa Rana, mamanya gak mau ikut karena sudah pisah. Ada rasa penyesalan dalam hati.

Pagi ini saya menyusuri daerah pinggiran Kabupaten Kediri dan Kota Kediri. Ya, Kediri dibagi dua, Kota madya dan Kabupaten, mirip dengan Bekasi.  Dengan motor yang dikenal oleh netizen sebagai motor sok gede, NMAX, saya melewati “Arc De Triomphe” di Simpang Lima, sampai ke tengah kota, tempat saya menginap di sebuah hotel kecil. Dulu saya memang menganggap Kediri itu lebih ndeso dari Gresik, namun sekarang Gresik lah yang jauh lebih ndeso. Dari segi penataan kotanya serta pertumbuhannya. Tentunya Kediri memang lebih luas dari pada Gresik.

Dulu saya cukup kagok untuk menghafal daerah/jalan di tengah kota. Namun dengan google maps, membaca sebentar, langsung paham. Terakhir ke kota ini barangkali 2013, saat ayah mertua meninggal. Kedepannya saya bakalan sering mondar mandir ke kota ini. Semoga nanti bisa ketemu komunitas FOSS atau Kamen Rider Club.

GNOME Asia Summit 2018 – Taipei, Taiwan

GNOME Asia Summit 2018 this time happen in Taipei – Taiwan, at National Taiwan University of Science and Technology, August 11 – 12, 2018. This summit is co-host between openSUSE Asia Summit and COSCUP, so the summit title is COSCUP 2018 x openSUSE Asia Summit 2018 x GNOME Asia Summit 2018.

I arrived at Taipei at Thursday – August 9. Franklin Weng from LibreOffice Taiwan pickup me at airport and go stright to A+A Workshop. A+A Workshop was place that FOSS Community from Taiwan used for meetup every Thursday. Franklin introduce me to others. Then go to First Hostel to meet other friends from Indonesia who also attend this conference. Most of them from openSUSE Indonesia.

#0 day

On Friday, me and others have free time. We go to Taipei Grand Mosque to Jum’ah (Friday) Praying, then I meet my High School Friends who live in Taipei. Then I go to Microfocus office to meet other Indonesian and openSUSE Community. At night, have dinner with LibreOffice Community around Asia, LibreOffice Taiwan (Franklin Weng) paid for our food.

Then we go to welcome party for speaker and staff. My role for this event was part of international staff, so I have invitation for this with others. It’s good time to see each others and good night few. Few openSUSE and SUSE member discuss with me about potential held openSUSE Asia Summit and GNOME Asia Summit together next year.

Taipei 101 from roof top

#1 day

This summit was very crowd comparing to COSCUP 2016 (I became speaker at that time). On first day attended by 1364 participant and on second day attended by 784 participant. It has 15 parallel classes. Few of them are in English, especially from openSUSE and GNOME.

In this summit, I help to manage coordinating for web content, design, and also material design such as logo. Many friends from Taiwan and Indonesia contribute in this. I’m not become speaker this time, but I bring few students and they become speaker.

Empty Class

On first day, I’m joining Benjamin Berg class, he’s talking about “Supporting Miracast on the GNOME Desktop” which is very interesting for me comparing to others. Then “Desktop applications: life inside a sandbox” by David King then The Year of the GNOME by Nuritzi Sanchez. I spent few hours for discussion with other participant. Sharing mine and their activity about contributing to FOSS. And also I try to find praying room, and found it next conference building. So comfortable. The organizer also give me food that compatible with Halal Food, and I see Sobha and her student got vegetarian food. It’s prepared well.

At evening, we have official two official BoF (openSUSE and GNOME) and one unofficial BoF (LibreOffice). I was realy confuse which one that I must join. But I made decission, because I bring 3 students that contribute in LibreOffice this year, so I will help them to join LibreOffice BoF. Before we go, I told Kukuh to join openSUSE BoF (because he’s President of openSUSE Indonesia Community, but also GNOME Foundation Member), Estu and Siska join GNOME BoF (both of them also GNOME Foundation Member). But suddenly, Siska joining LibreOffice BoF.

In this BoF, we share experience between each person about contributing LibreOffice with different ways each of us. And also we have food here. This is my first time eat Sushi. 😀

Delicious or not?

#2 day

I was late going to venue, I’m not joining for keynote speaker session and directly going to class at break time. Starting my day with Bin Li’s class talking about Flatpak vs Snap. The class in Chinese but slide in English, still understanable for me. Then go to Iwan’s class which talking about Using Inkscape do Design Shoes.

After lunch I joining two Kukuh’s class, first about GNOME Recipes & Local Wisdom then openSUSE Leap & Flatpak.

Dinner at #2 day

In evening I invited by COSCUP to join dinner together other Indonesian going to Ximending to buy some souvenir. I was the same table with Max Huang, Ines, Sunny, Edwin Zakaria, Kukuh, Estu, Fuminobu Takeyama, Naruhiko Ogasawara, and Syuta Hashimoto. The food is good and many COSCUP staff here so we have lot of chat each others. They also prepare Muslim compatible food and also vegetarian food. Sunny help us to tell wich one that contain pork.

Sushi, Again!

#3 Day

This is last day of the event, I joining one day tour for speaker. Going to National Palace Meuseum and Taipei 101. I’m not excited because I’ve been here. NPM for second time and Taipei 101 for third time. But having together with other are good for me.

At Evening, Franklin and Eric invite all Indonesian to have dinner (again). IMHO, this is the best food that I have when visiting Taiwan this time.

Everybody Looks Tired

Notes

  1. I’m GNOME Foundation Member and The Document Foundation Member, also from openSUSE Indonesia Community. Because of this, I have many chance to have chat with others.
  2. There’s no GNOME Exhibition Booth this time
  3. I help 3 students going to this conference, they never going abroad. I hope after this they can share their experience to others to increase contributor in Indonesia
  4. I have meeting on second day with Max, Emily, Sammy and Haggen. Max stepdown from GNOME Asia Committee. Both Max and Emily handle lead GNOME Asia for decade. Now it’s me and Sammy.

Thanks to Max Huang and COSCUP Teams, also thanks to Franklin Weng and Eric Sun!

 

GNOME yang Jelek atau Akhlak Kalian yang Buruk?

GNOME 3.28 beberapa waktu lalu baru rilis, cukup memancing banyak komentar. Tanggal 26 April kemarin, Ubuntu 18.04 meluncur dengan menyertakan GNOME 3.28 sebagai Desktop Environment baku. Unity sudah tidak dipergunakan lagi, mungkin tim Ubuntu sudah lelah.

Berawal dari move on-nya si Ubuntu, banyak penggemarnya kecewa, dan merasa GNOME itu jelek, tanpa bisa menunjukkan kejelekannya. Mari kita mundur beberapa waktu lalu.

 

Awal muncul GNOME 3, saya termasuk orang yang tidak suka, antar mukanya aneh. Lebih nyaman dan sederhana GNOME 2. Saya yang saat itu masuk di tim pengembang BlankOn, bersama rekan-rekan membedah kejelekannya sehingga muncullah bibit-bibit pemberontakan dengan dimulainya BlankOn Panel yang berujung pada Manokwari.

Manokwari sendiri perlu dibuat karena kedepannya, semua pustaka GNOME 2 akan ditinggalkan dan beralih ke GNOME 3. Tapi saya dan teman-teman tidak siap untuk sepenuhnya menggunakan GNOME 3 karena beberapa kejelekannya.

2014, saat GNOME Asia di Beijing, saya ngomong sendiri bahwa GNOME jelek ke pimpinan desainer UI/UX, Allan Day, dan berujunglah diskusi panjang. Saya pasti kalah sama mereka dalam hal penjelasan, saya cupunya minta ampun. Tapi saya menang dengan menceritakan bahwa GNOME 3 membutuhkan sumber daya komputer cukup besar (misal RAM 1 GB) di mana masyarakat Indonesia tidak banyak yang bisa memenuhinya. Sedangkan Manokwari, bisa bekerja (waktu itu) pada RAM 256 MB. Toh Manokwari masih menggunakan pustaka GNOME.

Sekitar 2011, Ubuntu merilis Unity, banyak yang komplain dan gak nyaman. Pindah ke KDE juga takut gengsinya turun lantara KDE di masa itu (sampai masa kini sih) mirip MS Windows dan banyak kutu (sekarang udah jauh mendingan).

Kita terbiasa ngedumel dan menjelek-jelekkan tanpa bisa menunjukkan apa yang bisa dilakukan untuk memperbagus hal tersebut. Mental kita lebih banyak sebagai pencela dari pada penebar “Rahmatan Lil Alamin”.

Saya dulu, mantab pindah ke GNOME 3.x saat memiliki layar dengan resolusi di atas FHD (3K) dan layar sentuh. Banyak perabotan GNOME bisa berfungsi dengan baik, seperti:

  • di Yoga 3 Pro, di layar ada logo jendela, saat disentuh, akan bisa menampilkan Activities. Pada DE lain tidak bisa
  • di layar sentuh, on screen keyboard sangat mudah tampil saat kita merasa memerlukannya (atau pada tablet mode). Tentunya hal ini tidak terjadi jika komputer kalian masih konvensional.

Jadi, sebelum mencela GNOME, lebih baik kopdar, ngopi-ngopi dulu dengan teman-teman komunitas GNOME. Saya traktir!

Catatan: saya belum nemu orang komplain dengan DE-nya Endless OS. Kalau komplain terkait tidak bisa booting dan sampai mencela saya tidak beretika sih ada.

LibreOffice Conference Indonesia 2018

The Original Story Behind This Conference

Yes, Sokibi and Rania already write the story about how we starting the conference. It’s true but not complete one. The original one was before I have dinner with Sokibi and Rania. I have lunch with Kukuh and Moko in Soto Betawi Restourant near my house.

Soto Betawi

Continue reading “LibreOffice Conference Indonesia 2018”

Membangun GNOME Recipes dan Menjalankan dengan Antar Muka Indonesia

Tulisan ini masih sedikit melanjutkan pengalaman GNOME Recipes Hackfest 2018, namun sedikit ditambahkan atas pesanan Pak Andika (Koordinator Penerjemahan GNOME) terkait bagaimana cara menguji aplikasi dengan antar muka bahasa Indonesia (dengan file .po yang sudah kita terjemahkan).

Mari kita mulai! Continue reading “Membangun GNOME Recipes dan Menjalankan dengan Antar Muka Indonesia”