Catatan Menjadi Juri di Kompetisi Mahasiswa

Tanggal 8 sampai dengan 10 November 2018 saya diminta untuk menjadi juri pada Kompetisi Mahasiswaย bidang Informatika Politeknik Nasional 2018 yang diadakan di PENS, Surabaya, Jawa Timur. Ada beberapa kategori dalam kopetisi ini: IoT, Bisnis TIK, Hackathon, Design Animasi, Game Dev, E-Gov, Keamanan Jaringan, dan Cipta Inovasi.

Saya baru pertama kali menjadi juri pada kompetisi semacam ini. Dan acara ini juga baru pertama kali diadakan serta akan bersifat tahunan. Saya ditunjuk untuk menjadi juri kategori IoT. Kategori yang saya tidak tertarik untuk menjadi pelaku, namun sangat tertarik untuk mengamati dan mempelajari. Menjadi juri di kategori ini memaksa saya untuk belajar lagi prinsip-prinsip dasar IoT dan Industri 4.0.

Peserta kompetisi ini dari banyak Poltek yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam kategori yang saya tangani, para mahasiswa saya nilai cukup kreatif dan pintar. Saya salut ke mereka dengan usia semuda itu tapi bisa melakukannya. Bermacam-macam yang telah dibuat oleh para peserta, ada sensor kesehatan sapi, pengatur irigasi, pemberi makan ternak otomatis, pemasak nasi otomatis, pengelola kamar kos, pengelola antrean, dsb.

Untuk IoT terdiri dari 3 juri. satu juri dari industri, satu juri dari akademisi dan satunya lagi juri umum (kali ini saya dalam posisi ini). Sebelum memulai penjurian, saya menanyakan ke juri akademisi terkait komponen kesiapan produk. Apakah yang dipresentasikan cukup berupa purwarupa atau sudah siap produksi. Pak Udin yang jadi dosen Poltek (akademisi) menjawab pasti “Siap produksi, karena keseharian di Poltek itu sudah prototype/purwarupa”.

Nah di sini saya akan sedikit memberikan beberapa catatan:

  1. Mayoritas produk yang dipresentasikan masih sebatas purwarupa. Ada beberapa yang sudah siap produksi, namun terkendala tidak sanggup menghitung atau memperkirakan harga jualnya. Banyak diantaranya tidak memiliki antar muka yang baik.
  2. Beberapa tidak berfikir untuk menjual produknya karena mengharapkan dana bantuan/hibah/funding. Ini baik jika implementasinya untuk kelembagaan seperti yayasan. Namun perhitungan nilai produk harus tetap ada.
  3. Banyak yang rumit sehingga tidak praktis. Ini mungkin dikarenakan kepintaran peserta. Saya yakin mereka pintar-pintar sehingga sanggup membuat produk yang kompleks sehingga melupakan asas praktisnya.
  4. Masih berkutat di menampilkan data di dashboard. Jika cuma menggunakan IoT untuk menampilkan data di dashboard, ini masih Industri 3.0, di 4.0 harusnya rawdata diolah/dianalisa dan dikembalikan ke peralatan IoT untuk melakukan aksi-aksi selanjutnya.
  5. IoT itu membutuhkan koneksi internet. Ada beberapa peserta yang dalam realitanya akan sangat kesulitan menerapkan produknya dikarenakan faktor akses internet, bahkan listrik. Dalam pengujian produknya mungkin sarana internet sudah mendukung. Sehingga dalam produknya harus dibatasi atau diberikan prasyarat dalam implementasi nyata.
  6. Presentasi banyak membahas seputar teknis, bukan produk itu sendiri. Ini terkesan peserta kurang bisa menjelaskan produknya, mereka terlalu fokus pada hal-hal teknis dan teknologi. Bukan pada penerapan produk dan fitur-fiturnya. Terkait teknis, juri pasti akan menanyakan ke mereka.
  7. Kurang uji produk. Beberapa peserta dalam presentasi produknya tidak berjalan mulus. Saya menduga ini kurang diuji dikarenakan waktu mereka terbatas.
  8. Dalam kacamata saya, jika ada salah satu peserta yang sudah MoU dengan industri/bisnis terkait produknya, mungkin bisa jadi pemenang. Banyak jalan untuk ke sini.

Di luar catatan di atas, saya banyak bertemu dengan para akademisi. Orangnya pinter-pinter dan baik. Walau saya yakin seyakin-yakinnya, kalau mereka ngajar pasti galak dan bawel.

Bersama para dosen Poltek

Bertemu orang pinter dan baik itu bisa menjadi obat hati.

 

Advertisements

Kehidupan dan Cobaan/Ujian

Mudik kali ini terasa berbeda, saya bisa melihat sudut pandang lain. Saya menyempatkan bertemu dengan beberapa keluarga utama dari ayah dan ibu. Menyempatkan menemui keluarga adik saya. Kurang satu, tidak ketemu adik kecil saya yang memang sepertinya tidak berminat untuk ketemu saya.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, biasanya saya hampir tidak mendapatkan hikmah yang banyak selain dari cerita-cerita mereka. Namun kali ini berbeda. Saya mengingat ujian/cobaan masing-masing terhadap kehidupan mereka.

Ada yang diuji dengan bayang-bayang kesalahan masa lalunya, jauh dari anaknya, dikucilkan saudaranya; ada yang dicoba dengan kemampuan dan kelebihannya, sehingga apapun yang diingikan selalu terpenuhi; ada yang diuji dengan ketidak mampuan ekonomi; ada yang diuji dengan kondisi kesehatannya. Ada yang diuji dengan harus merawat orang tuanya yang sudah tua renta. Ada juga yang harus terus bekerja keras agar anak-anaknya bisa sekolah sampai jenjang yang tinggi. Ada juga yang diuji harus tetap berbakti kepada kedua orang tuanya, sehingga dia tidak bisa bekerja di luar kota.

Ada juga para orang tua-orang tua yang diuji dengan perilaku buruk anak-anaknya; ada yang anaknya bercerai; ada yang diusia tua masih harus membantu anak-anaknya untuk merawat cucu-cucunya; ada yang tidak memiliki anak dan hidup sendiri; ada yang memiliki anak yang sudah berkeluarga namun masih menggantungkan hidup ke orang tuanya dan beraneka ragam lainnya.

Saya mudik memang sengaja “terlambat”, hampir dua minggu setelah lebaran, hampir bertepatan dengan Haul Sunan Prapen. Saya sengaja melakukannya biar orang tua saya tidak kebingungan karena saya membawa istri (baru) setelah pernikahan sebelumnya kandas dikarenakan keegoisan saya.

Mudik sendiri bagi saya tidak berlaku, karena saya sering kali mengunjungi orang tua di beberapa tahun terakhir. Paling lambat dua bulan sekali. Namun mudik kali ini berkesan bagi istri yang orang Jakarta asli. Orang jakarta asli tidak memiliki kampung. ๐Ÿ™‚

Istri juga jadi mengetahui sejauh mana tingkat kemiskinan bapak ibu saya. “Tidak terbayangkan sejauh itu”, katanya. Ya begitulah, tapi alhamdulillah anak-anak mereka sudah bisa mandiri semua, sehingga tinggal anak-anaknya membalas budi orang tua walau tidak akan pernah mencukupi.

ุงูŽู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ู„ููŠู’ ูˆูŽู„ููˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู‘ูŽ ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ูู…ูŽุงูƒูŽู…ูŽุงุฑูŽุจู‘ูŽูŠูŽุงู†ููŠู’ ุตูŽุบููŠู’ุฑูŽุง

Umroh

Belasan tahun lalu, saya tidak yakin akan bisa datang ke Haramain dan selalu kagum ke orang-orang yang bisa berhaji atau umrah di usia muda.

Semenjak kehidupan saya lebih baik, orang tua saya memaksa agar saya daftar haji. Namun saya masih menolak dengan banyak dalih (terutama terkait carut marutnya pengurusan haji). Saya juga melihat mereka seperti merindukan Makkah dan Madinah (walaupun belum pernah ke sana) dikarenakan tiap hari yang ditonton adalah TV Kabel yang menyiarkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi secara langsung. Tiap pulang ke Gresik, yang terpikir adalah segera memberangkatkan mereka umroh dan alhamdulillah sudah terpenuhi.

Continue reading “Umroh”

Menjadi Pengembang BlankOn

Apa itu Pengembang BlankOn?

Pengembang BlankOn adalah manusia-manusia yang aktif berkontribusi dan ingin membangun negeri dengan cara yang berbeda serta keahliah yang berbeda. Mereka terkumpul dalam sebuah kelompok yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menertibkan dunia. Kelompok ini menghasilkan orang-orang yang cerdas, canggih, mandiri serta berbudi pekerti yang luhur. Selain itu menghasilkan efek samping berupa distribusi sistem operasi berbasis Linux dengan cita rasa nusantara. Kegiatan atau proyek tersebut bernama BlankOn.

BlankOn sendiri bisa diterjemahkan topi belangkon, namun kecenderungannya adalah Blank dan On. Di mana artinya dari keadaan ‘mati’ ke ‘nyala/hidup’. Dengan bahasa yang universal “from zero to hero”.

Proyek BlankOn sendiri dimulai sejak Februari 2005.

Kenapa Saya Bergabung dengan BlankOn?

Saat itu, kehidupan saya tidak seperti sekarang. Kondisi masih terlalu awam dan labil. Yang terpikir hanya saya harus belajar hal-hal yang teman-teman saya belum bisa. Seiring waktu, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari teman-teman yang lebih senior lainnya.

Saya mengidolakan beberapa teman-teman yang sudah terlebih dahulu berada di Proyek BlankOn. Mereka keren dan baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam hal-hal teknis. Namun umumnya, saya ingin seperti mereka. Contoh sederhana, saya ingin seperti pak Mdamt ataupun pak Fajran yang saat itu punya ‘mainan’ banyak. Bapak berdua itu juga tidak pelit dalam hal berbagi ilmu ataupun mainan.

Saya juga bermimpi bisa membawa para Pengembang BlankOn ke tingkat yang lebih tinggi sehingga yang tidak pinter seperti saya, bisa ikut maju dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekelilingnya.

Obsesi tersebut beraneka macam jalannya, salah seorang mantan atasan saya pernah bilang “pengguna linux itu nantinya harus keren, laptop pakai Mac, ndak pakai sandal jepit bulukan, dan kalo perlu punya Ducati”. Ujaran tersebut begitu mengena dan berusaha saya terapkan. Kesemuanya sudah terpenuhi kecuali yang terakhir (tapi punya yang kelas bawah). Hahaha.

Manfaat

Bagi saya, saya sudah menganggap BlankOn ini sebagai keluarga. Bisa juga ini menjadi sekte sendiri. Saya tidak gampang berteman dengan orang, namun dari BlankOn ini saya jadi memiliki banyak teman baik. Banyak teman banyak rezeki.

Selain itu, saya jadi dikenal banyak orang karena aktif sebagai Pengembang BlankOn, efek sampingnya, gampang mencari pekerjaan (dalam beberapa waktu, malah sering kelimpahan banyak pekerjaan).

Di dunia komunitas, rekan-rekan yang lebih berpengalaman mendorong saya dan yang lainnya untuk aktif ke proyek hulu (upstream). Menjadikan saya dan yang lainnya bisa ikut kontribusi dalam tingkatan dunia. Ketemu para pengembang dari berbagai negara, juga bisa berkunjung ke berbagai negara.

Saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa ada teman-teman Pengembang BlankOn.

Ah itu dulu dah yang terpikir setelah semalem mengumumkan pensiun menjadi Pengembang BlankOn. Kalau ada yang ditanyakan, bisa komentar di bawah.

๐Ÿ™‚

Piknik ke Taiwan 2016

Taiwan adalah negara lain yang pertama kali saya kunjungi. Berawal dari nasib baik bekerja di Yayasan AirPutih dan kenal dengan teman-teman dari negeri Taiwan. Kesemuanya itu berujung saya diajak ‘piknik’ ke sana pada tahun 2009.

Selang 7 tahun (19-23 Agustus 2016), saya diberikan rezeki dan kesempatan untuk jalan-jalan ke sana lagi sambil ndongeng tentang Maleo yang ada di BlankOn Linux. Tapi tujuan utama adalah bertemu teman-teman yang ada di sana.

Piknik kali ini spesial, karena saya begitu menikmati negara ini, banyak jalan-jalan dan makan-makan.

Terima kasih buat Prof Chi atas jemputan dan kartu 4G selama di sana. Terima kasih juga buat Eric Sun dan Franklin Weng atas semuanya. ๐Ÿ™‚

Chiang Kai-shek Memorial Hall / ไธญๆญฃ็ด€ๅฟตๅ ‚
Chiang Kai-shek Memorial Hall / ไธญๆญฃ็ด€ๅฟตๅ ‚

Co-Founder di JakartaLiveMusic.com

Di sela-sela kesibukan, saya membantu teman yang memiliki ide awal tentang JakartaLiveMusic.com. Portal ini berisikan informasi-informasi konser/acara musik yang berada di Jabodetabek.

Saya membantu mewujudkan ide-idenya ke dalam sebuah website yang dinamis dan praktis serta informatif.

JakartaLiveMusic.com
JakartaLiveMusic.com

Webnya masih baru sih, tapi sudah mulai naik daun. Ada promo-promo serta hadiah yang menanti di sana.

Jualan Gitar Elektrik

Postingan kali ini hampir tidak ada sangkut pautnya sama komputer. Ya, kali ini sih tentang gitar. Saya tidak sengaja membelanjakan uang DP motor yang tidak jadi untuk beli beberapa gitar elektrik.

Di antara gitar-gitar itu, banyak gitar-gitar lokal yang kualitasnya setara dengan gitar-gitar bermerek luar. Beberapa gitar modelnya meniru gitar artis terkenal.

Karena jumlahnya cukup banyak, dan saya cepat bosan dengan beberapa model, jadinya kepikir ide jualan gitar deh. Hasil iseng terwujud di http://princeofgiri.com/store.

Target selanjutnya adalah membeli efek gitar yang mendukung USB agar bisa ngoprek BlankOn dengan efek tersebut. Kalau tidak bisa ya dijual lagi. ๐Ÿ˜€

Kalau ada yang mau coba, silahkan main-main ke rumah koleksinya banyak. ๐Ÿ˜€

Model Ibanez Seven
Fender Stratocaster Bekas
Ibanez JEM
Epiphone Les Paul Custom