Umroh

Belasan tahun lalu, saya tidak yakin akan bisa datang ke Haramain dan selalu kagum ke orang-orang yang bisa berhaji atau umrah di usia muda.

Semenjak kehidupan saya lebih baik, orang tua saya memaksa agar saya daftar haji. Namun saya masih menolak dengan banyak dalih (terutama terkait carut marutnya pengurusan haji). Saya juga melihat mereka seperti merindukan Makkah dan Madinah (walaupun belum pernah ke sana) dikarenakan tiap hari yang ditonton adalah TV Kabel yang menyiarkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi secara langsung. Tiap pulang ke Gresik, yang terpikir adalah segera memberangkatkan mereka umroh dan alhamdulillah sudah terpenuhi.

Continue reading “Umroh”

Advertisements

Menjadi Pengembang BlankOn

Apa itu Pengembang BlankOn?

Pengembang BlankOn adalah manusia-manusia yang aktif berkontribusi dan ingin membangun negeri dengan cara yang berbeda serta keahliah yang berbeda. Mereka terkumpul dalam sebuah kelompok yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menertibkan dunia. Kelompok ini menghasilkan orang-orang yang cerdas, canggih, mandiri serta berbudi pekerti yang luhur. Selain itu menghasilkan efek samping berupa distribusi sistem operasi berbasis Linux dengan cita rasa nusantara. Kegiatan atau proyek tersebut bernama BlankOn.

BlankOn sendiri bisa diterjemahkan topi belangkon, namun kecenderungannya adalah Blank dan On. Di mana artinya dari keadaan ‘mati’ ke ‘nyala/hidup’. Dengan bahasa yang universal “from zero to hero”.

Proyek BlankOn sendiri dimulai sejak Februari 2005.

Kenapa Saya Bergabung dengan BlankOn?

Saat itu, kehidupan saya tidak seperti sekarang. Kondisi masih terlalu awam dan labil. Yang terpikir hanya saya harus belajar hal-hal yang teman-teman saya belum bisa. Seiring waktu, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari teman-teman yang lebih senior lainnya.

Saya mengidolakan beberapa teman-teman yang sudah terlebih dahulu berada di Proyek BlankOn. Mereka keren dan baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam hal-hal teknis. Namun umumnya, saya ingin seperti mereka. Contoh sederhana, saya ingin seperti pak Mdamt ataupun pak Fajran yang saat itu punya ‘mainan’ banyak. Bapak berdua itu juga tidak pelit dalam hal berbagi ilmu ataupun mainan.

Saya juga bermimpi bisa membawa para Pengembang BlankOn ke tingkat yang lebih tinggi sehingga yang tidak pinter seperti saya, bisa ikut maju dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekelilingnya.

Obsesi tersebut beraneka macam jalannya, salah seorang mantan atasan saya pernah bilang “pengguna linux itu nantinya harus keren, laptop pakai Mac, ndak pakai sandal jepit bulukan, dan kalo perlu punya Ducati”. Ujaran tersebut begitu mengena dan berusaha saya terapkan. Kesemuanya sudah terpenuhi kecuali yang terakhir (tapi punya yang kelas bawah). Hahaha.

Manfaat

Bagi saya, saya sudah menganggap BlankOn ini sebagai keluarga. Bisa juga ini menjadi sekte sendiri. Saya tidak gampang berteman dengan orang, namun dari BlankOn ini saya jadi memiliki banyak teman baik. Banyak teman banyak rezeki.

Selain itu, saya jadi dikenal banyak orang karena aktif sebagai Pengembang BlankOn, efek sampingnya, gampang mencari pekerjaan (dalam beberapa waktu, malah sering kelimpahan banyak pekerjaan).

Di dunia komunitas, rekan-rekan yang lebih berpengalaman mendorong saya dan yang lainnya untuk aktif ke proyek hulu (upstream). Menjadikan saya dan yang lainnya bisa ikut kontribusi dalam tingkatan dunia. Ketemu para pengembang dari berbagai negara, juga bisa berkunjung ke berbagai negara.

Saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa ada teman-teman Pengembang BlankOn.

Ah itu dulu dah yang terpikir setelah semalem mengumumkan pensiun menjadi Pengembang BlankOn. Kalau ada yang ditanyakan, bisa komentar di bawah.

🙂

Penjual Sepatu

Kemarin sore, saya sempat berkunjung ke rumah penjual sepatu di daerah Cengkareng – Jakarta Barat. Saya tau penjual itu dari mbak Winendah Ayu Wulansari anak KPLI Bogor melalui jalur internet. Karena penasaran, jadilah saya ke rumah si penjual dengan maksud ingin tahu saja.

Rumah penjual itu cukup jauh kalau dari Cempaka Putih (sebelumnya saya ketemu orang di seputaran Cempaka Putih). Saya mengandalkan google maps di perangkat genggam android untuk menemukan rumah yang bersangkutan. Masuk-masuk gang kelinci (kecil) di mana mobil tidak bisa masuk (untung naik motor).

Saya sempat tanya-tanya ke warga sekitar untuk memastikan rumahnya, warga sekitar mengetahui kalau si penjual sepatu anak dari Ibu Yayuk sang penjual daging di mana suaminya telah meninggal dunia. Dan … ketemu rumahnya dan disambut dengan baik oleh si Ibu Yayuk tersebut. Beliau menjelaskan bahwa anaknya si Dwi (yang jual sepatu) sedang keluar.

Pertama kali saya mengenali si Ibu tersebut berusia di atas 45 tahun, mungkin 50-an, lebih tua dari Ibu saya. Selanjutnya saya mengenali aksen beliau sebagai aksen suku Jawa, dan beliau juga tanggap bahwa saya juga bersuku yang sama (padahal aksen Jawa saya banyak hilang, tapi ketahuan juga). Saya juga melihat foto si Dwi dan saya perkirakan seumuran saya atau 2 tahun lebih muda dari saya.

Rumahnya cukup sederhana, ruang tamu beralaskan karpet dan dipenuhi oleh sepatu yang terbungkus kotak. Ada juga yang sudah dibungkus rapi untuk dikirim ke pembeli. Dari pengamatan yang agak detail bergaya detektif, saya yakin bahwa mereka tiap hari menjual sepatu tersebut minimal 20 unit.

Otak kiri saya langsung bekerja secara otomatis. Saya memperkirakan keuntungan per unit sepatu adalah 20.000,- rupiah. Jadi 20.000 x 20 = 400.000 rupiah dalam sehari. WOW ini dua kali lebih gaji saya saat menjadi manajer IT di sebuah perusahaan swasta dengan beberapa kantor cabang (mungkin gaji saya saat itu emang kecil, makanya saya keluar).

Setelah urusan memilih sepatu selesai, saya berpamitan, dan si Ibu juga menjelaskan kalau beliau juga bersiap-siap mengirim sepatu ke biro pengiriman dengan bersepeda motor. Sepatu yang di angkut sekitar 25 pasang dalam kotak terbungkus rapi. Yang menarik  adalah si Ibu tersebut sudah siap-siap dengan bercelana jeans dan terlihat masih enerjik untuk usia 50 tahun.

Sepanjang jalan, sambil berkendara motor saya termenung dan berfikir serta bersyukur akan pengalaman hari ini, walau punggung rasanya capek sekali. Saya menyimpulkan bahwa selagi orang itu masih mau berusaha, rezeki pasti datang. Dan ketika kita berfikir usaha yang remeh itu tidak keren atau tidak ada hasilnya, justru usaha itu yang secara nyata lebih menghasilkan.

Salut dengan perjuangan si Ibu Yayuk dengan dua orang anaknya (1 laki-laki, 1 perempuan). Semoga Allah memberkahi kita semua yang masih mau untuk berusaha.

Birthday

August 29th is my wife birthday. It’s also my sister birthday and Michael Jackson birthday. I just wanna say happy birthday to my lovely wife and my sister. Not to Jacko. 🙂

Actually I cannot give my wife some cool stuff. I’m sorry for that and sorry for all my mistake.